Review Buku: Almond

Semua orang memiliki almond dalam kepalanya. Tentu saja, almond yang dimaksud bukan almond sungguhan melainkan amigdala karena dibilang mirip biji buah persik atau disebut juga sebagai almond. Yoonjae merupakan salah seorang yang memiliki amigdala kecil dibandingkan orang-orang pada umumnya. Sehingga, Yoonjae pun bisa dikatakan mengidap alexithymia.


Alexithymia merupakan ketidakmampuan mengungkapkan emosi. Tahun 1970, alexithymia dilaporkan pertama kali sebagai penyakit kejiwaan. Banyak hal yang menyebabkan penyakit ini bisa muncul, katakan saja apabila penedrita tidak bisa mengembangkan rasa emosional atau ketika penderita mengalami trauma. Ada pula yang seperti Yoonjae yang memiliki amigdala kecil sehingga tidak akan bisa merasakan rasa takut. Namun, rasa-rasa yang lain seperti cemas, takut, bahagia dan lain dapat dilatih sehingga bisa menjadikan perasaannya berkembang. 


Aku ingat beberapa judul drama Korea yang menyerempet alexithymia. Semua digambarkan orang-orang seperti ini memang ada kecenderungan untuk menjadi psikopat karena tidak memiliki rasa takut untuk membunuh ataupun dibunuh. 


Beberapa drama Korea yang mengangkat tema alexithymia yaitu di antaranya Born Again, He is Psychometric, Alice and many more.


Alice memang membuat tokohnya mengidap alexithymia, tetapi karena ceritanya berfokus pada perjalanan waktu, sepertinya penyakit kejiwaan tersebut hanya dibuat sebagai pelengkap.


Maka dari itu, novel remaja Korea ini, patut diacungi jempol.

ALMOND


ALMOND

Oleh Sohn Won-Pyung

ISBN 9786020519807

Penerjemah: Suci Anggunisa Pertiwi

Edisi Bahasa Indonesia diterbitkan pertama kali oleh Penerbit PT. Grasindo, Anggota IKAPI, Jakarta 2019.


Novel Almond terdiri dari 4 episode dengan 75 bab ditambah prolog dan epilog.


Yoonjae lahir dan dibesarkan oleh ibu tunggal dan seorang nenek. Ketidakmampuannya memiliki emosi, tentu saja akan mengundang banyak respon orang-orang di sekitar. Banyak orang jadi mencemooh dan suka menjahili Yoonjae.


Ibu Yoonjae terus berusaha agar Yoonjae bisa hidup normal, meski Yoonjae sendiri kurang paham dengan maksud hidup normal seperti yang dikatakan oleh ibunya.


Hidup Yoonjae berubah semenjak tragedi yang menewaskan neneknya dan membuat koma ibu. Orang-orang yang selalu siap memberikan jawaban bila Yoonjae mendapat pertanyaan dari kehidupannya.


Tulang rusukku berasa remuk ketika nenek memelukku. Sejak dulu, nenek sering memanggilku monster. Bagi nenek, kata itu bukanlah sesuatu yang berarti buruk. -hlm 10.


Aku yakin nenek memberikanku sebutan seperti itu karena ia sangat sayang padaku dan aku pun mempercayainya. - hlm 11.


Semenjak ibu Yoonjae memutuskan untuk kembali hidup bersama dengan nenek Yoonjae, mereka membuka toko buku bekas. Dari buku-buku itulah, sepertinya Yoonjae mulai mengenal ekspresi dan perasaan.


Semua emosi yang tidak bisa kurasakn dan kejadian yang tidak bisa kualami secara diam-diam dimuat di dalamnya. - hlm 35.


Ku rasa, memang kehidupan Yoonjae benar-benar berubah semenjak dia harus hidup mandiri, harus berpikir sendiri meskipun dengan bantuan Prof Shim sebagai wali Yoonjae semenjak Yoonjae hidup sendiri.


Pertemuannya dengan Gon, cara mereka berteman, persahabatan yang unik. Satunya terlihat lemah, sementara satunya selau bersikap pura-pura kuat.


Selain kehidupan Yoonjae, aku juga kagum dengan sikap Gon yang polos. Sesungguhnya antara dia dan ayahnya hanya kurang berkomunikasi. Di satu sisi, ayah Gon masih belum bisa menerima kematian istrinya dan tiba-tiba saja muncul anak yang telah hilang 15 tahun silam. Sementara Gon hanya ingin ayahnya menanyakan kabarnya selama ini. Coba mereka ikutan Ibu Profesional dan mendapat materi Komunikasi Produktif ya.


Yoonjae yang tidak bisa mengungkapkan perasaan juga terlihat manis saat jatuh cinta pada Dora bukan Dora mana peta, mana peta. Seorang gadis yang berasal satu sekolah yang sama dengannya, sesekali mampir ke toko bukunya Yoonjae. Mirip Gon, hanya saja berkebalikan.


Oh tidak! Sepertinya aku kelewatan spoilernya. Mianhe ya.


Sebagai cerita yang mengangkat tema tentang alexithymia, novel ini wajib kamu baca. Lupakan kata BEST SELLERnya. Kamu akan tahu mengapa buku ini menjadi salah satu novel terjemahan BEST SELLER.


Aku rasa, bila buku ini difilmkan pasti akan menjadi ngehits juga. Tetapi, seperti yang dikatakan Yoonjae, tentu saja perasaan yang diungkapkan dalam buku mungkin akan berbeda bila ditampilkan dalam drama ataupun film.


Sebagai penutup, aku berikan sebuah cuplikan yang menurutku lucu.


"Jangan mati! Aku akan lalukan apapun untukmu, apa pun.."

Gon menangis dan tubuhnya sudah berlumuran darah. Sekilas aku melihat Cheolsa tengkurap di lantai. Aku tidak tahu mengapa aku bisa berbisik seperti ini kepada Gon.

"Kau harus minta maaf dengan tulus kepada semua orang yang telah kau lukai, termasuk kepada semua serangga, khususnya kupu-kupu yang sudah kau siksa."

Aku menyuruhnya meminta maaf, padahal aku sendiri datang untuk meminta maaf kepadanya. Walau begitu, Gon langsung menganggukkan kepalanya.

Tidak ada komentar