Review Buku Her Name Is.. Curhatan Cho Nam Joo yang Bikin Nagih

Mengapa buku "Her Name Is" karya Cho Nam-joo adalah pelukan hangat yang seringkali membuat kita terlelap? ((kita))

Pernahkah kamu merasa begitu lelah dengan hiruk-pikuk dunia, lalu mencoba mencari pelarian di balik lembaran buku, tetapi baru membaca satu halaman saja mata sudah terasa seperti ditarik gravitasi bumi hingga tertidur pulas? Jangan merasa berdosa dulu, Chingu. Mungkin itu bukan salah matamu yang kurang kafein, melainkan karena bukunya terlalu jujur dalam memotret realita, sehingga jiwamu merasa aman untuk beristirahat.

❤❤❤

review-buku-her-name-is


Assalamu Alaikum chingudeul! 

Apa kabar semuanya? Semoga hari ini cucian aman terkendali, masakan tidak gosong meski sambil ditinggal drakoran, dan hati tetap tenang walau cicilan terus berjalan, ya! Hehe 😋

Ngomong-ngomong soal fenomena ketiduran saat baca buku, kemarin aku baru saja menuntaskan (setelah perjuangan melawan kantuk yang heroik) buku berjudul "Her Name Is.." karya si jenius Cho Nam-joo. Ya, penulis yang sama dengan buku fenomenal Kim Ji-young, Born 1982. Jujur saja, awalnya aku sempat membatin, "Kok ini datar banget ya? Mana konfliknya?". Tapi setelah aku selami pelan-pelan, aku menemukan sebuah permata tersembunyi. Lewat book review ini, aku ingin mengajakmu ngobrol santai soal mengapa buku ini justru menjadi "obat tidur" paling bergizi bagi jiwa kita, para perempuan.


Kenapa Sih Rasanya Bikin Ngantuk?

Kita seringkali terbiasa dengan narasi yang "berisik"—buku yang penuh plot twist, penjahat yang bikin tensi naik, atau drama percintaan yang menguras air mata. Namun, dalam Her Name Is.., Cho Nam-joo memilih jalan yang berbeda. Buku ini berisi 60 cerita pendek yang sangat "lempeng". Gaya bahasanya klinis, jujur, dan apa adanya. Rasanya seperti kita sedang duduk di halte bus, lalu tanpa sengaja menguping curhatan orang asing di sebelah kita.

Justru karena ceritanya sangat mirip dengan keseharian kita—mulai dari urusan dapur, drama kantor, hingga perselisihan halus dengan mertua—otak kita kehilangan kewaspadaannya. Kita tidak merasa sedang membaca fiksi; kita merasa sedang bercermin. Keakraban inilah yang membuat otot-otot tegang kita merelaksasi diri.

"Membaca buku ini ibarat minum jamu beras kencur hangat di sore hari. Awalnya terasa biasa saja, bahkan cenderung tawar bagi penyuka soda. Namun, lama-kelamaan badan terasa enteng dan hati menjadi adem karena kita merasa ada yang akhirnya memahami beban yang selama ini kita pikul sendirian."

Jika kamu tertidur saat membaca buku ini, anggaplah itu sebagai pujian bagi sang penulis. Cho Nam-joo berhasil menciptakan ruang yang begitu aman sehingga kamu merasa boleh "istirahat" sejenak dari dunia yang menuntutmu selalu siaga.


Kisah Perempuan yang 'Kita Banget'

Buku ini bukan tentang satu pahlawan super, melainkan tentang puluhan perempuan dengan latar belakang berbeda yang semuanya memiliki satu kesamaan: perjuangan. Cho Nam-joo mengumpulkan kisah-kisah nyata dari berbagai wawancara, lalu mengemasnya menjadi fiksi yang terasa sangat personal.

Si Ibu yang Kembali Bekerja

Ada cerita tentang perempuan yang mencoba masuk kembali ke pasar kerja setelah bertahun-tahun menjadi Ibu Rumah Tangga (IRT). Perasaannya yang cemas, rasa rendah diri saat melihat teknologi yang berubah cepat, hingga tatapan meremehkan dari pewawancara muda—semuanya digambarkan dengan sangat pedih namun nyata.

Anak Sekolah yang Mulai "Melek"

Tentang remaja perempuan yang mulai menyadari bahwa aturan di sekolahnya tidak adil bagi gender mereka, dan keberanian kecil yang mereka kumpulkan untuk protes.

Nenek yang Mencari Suara

Bahkan ada kisah tentang perempuan lanjut usia yang di masa tuanya baru menyadari bahwa ia tidak pernah benar-benar memiliki hidupnya sendiri.


Meskipun latar belakangnya adalah Korea Selatan, isu yang diangkat sangatlah universal. Bukankah kita di Indonesia juga sering merasakan sesak yang sama? Bagaimana kita dituntut menjadi superwoman yang harus mahir mengurus rumah, cemerlang di karier, namun tetap harus tampil cantik tanpa boleh kelihatan capek. Buku ini menjadi pengingat bahwa di belahan dunia lain, ada "saudara perempuan" yang sedang berjuang di medan perang yang sama.


Menghargai Hal-Hal "Kecil" yang Sering Diabaikan

Seringkali, literatur besar berfokus pada peristiwa sejarah yang masif. Namun, Cho Nam-joo memilih untuk menyoroti detail kecil yang sering dianggap sepele oleh sejarah:

  1. Obrolan di grup WhatsApp ibu-ibu sekolah.
  2. Rasa lelah saat harus menyiapkan sarapan setiap pagi tanpa libur.
  3. Keresahan saat pulang malam dan merasa tidak aman di jalan.

Dengan menuliskan hal-hal ini, Cho Nam-joo seolah berkata, "Hai, apa yang kamu rasakan itu valid. Kamu tidak berlebihan. Masalahmu bukan hal sepele." Inilah yang membuat buku ini memiliki kekuatan magis meski tanpa ledakan emosi yang meledak-ledak.


Tips Biar Bacanya Tetap Asyik

Biar kamu nggak langsung terlelap di halaman ketiga, aku punya tips khusus nih buat chingudeul:

Jangan Maruk (One Story at a Time) 

Karena ini adalah jenis flash fiction, jangan mencoba melahap 60 cerita sekaligus dalam satu malam. Ibarat makan vitamin, cukup konsumsi satu atau dua cerita saja saat istirahat siang atau sebelum tidur. Biarkan satu cerita mengendap di kepalamu sepanjang hari.

Pilih Judul Secara Acak

Buku ini tidak harus dibaca urut dari halaman satu ke halaman terakhir. Coba cek daftar isinya, lihat judul mana yang paling "kamu banget" atau yang paling memicu rasa penasaranmu. Lompat-lompat saja, tidak ada yang akan memarahimu!

Gunakan Sebagai Jurnal Refleksi

Setelah selesai membaca satu kisah pendek, coba berhenti sejenak. Tanyakan pada dirimu, "Eh, aku pernah nggak ya merasa begini?" atau "Kalau aku jadi dia, apa yang bakal aku lakukan?". Cara ini akan mengubah pengalaman membaca dari sekadar menyerap informasi menjadi sebuah dialog batin yang mendalam.


Akhir Kata: Harus Punya Nggak?

Jadi, apakah buku "Her Name Is.." ini layak untuk dikoleksi? Jawabannya adalah YA. Terutama jika kamu adalah tipe orang yang merindukan bacaan yang tidak "berisik" tapi mampu menyentuh relung hati yang paling dalam.

Buku ini mungkin tidak memberikan solusi instan bagi masalah cicilan atau drama mertua, tapi ia memberikan sesuatu yang jauh lebih berharga: pengakuan. Ia mengakui bahwa suara kita berharga, perjuangan kita nyata, dan kita tidak sendirian dalam kelelahan ini.

Anggaplah buku ini sebagai sebuah pelukan digital dari Cho Nam-joo untuk semua perempuan di dunia. Meskipun mungkin membuatmu mengantuk di awal karena saking tenangnya, berikanlah kesempatan kedua. Siapa tahu, di salah satu dari 60 cerita tersebut, kamu akan menemukan dirimu sendiri sedang tersenyum balik padamu dari balik lembaran kertas.


Penutup dari Aku:

Nah, gimana? Jadi penasaran nggak mau baca (atau mungkin mau mencoba tidur bareng) bukunya Cho Nam-joo? Ingat ya, Chingu, meluangkan waktu buat baca itu juga salah satu bentuk self-care. Jadi jangan merasa bersalah kalau cucian masih numpuk dikit, yang penting kewarasan kita tetap terjaga!

Sampai jumpa di review buku selanjutnya! Stay happy, stay healthy, and keep reading!

Tidak ada komentar