Review Film Na Willa, Nostalgia dan Diskusi bersama Anak

Saat anak-anak seusia Na Willa melihat dunia dari kacamatanya. Menonton film Na Willa bersama para bocil ternyata menjadi sebuah nostalgia yang tidak terlupakan. Seperti apa serunya? Simak terus ya.

❤❤❤ 

Assalamualaikum

Suatu waktu, aku melihat tayangan stori WhatsApp salah temanku pemilik daycare di kotaku tentang ajakan nobar menonton film yang diangkat dari serial buku karya Reda Gaudiamo yang berjudul Na Willa persis seperti filmnya. Ditambah beberapa spoiler tentang isi cerita Na Willa yang sepertinya filmnya tidak akan kalah seru dibandingkan bukunya. Apakah karya dari Ryan Adriandhy (sang sutradara) akan mencetak rekor terbaru?

Aku tidak membahas perbandingan antara film dan bukunya, karena memang aku belum membaca bukunya.

Tetapi, yang aku tahu, film ini layak ditonton bersama keluarga (dan anak-anak).


Latar Retro dengan Visual yang Unik

Aku sempat menduga-duga, tahun berapakah Na Willa ini mengambil setting ceritanya. Ejaan tulisannya masih menggunakan ejaan Bahasa Indonesia yang lama. Terlihat dari tulisan-tulisan yang terpampang di toko pasar dan juga ejaan pada taman kanak-kanaknya. Mungkin sekitar tahun 1960-an. Berarti jika tidak salah duga, Na Willa (diperankan oleh Luisa Adreena) seusia ibuku.

Apalagi ditambah lagu Lilis Suryani yang dinyalakan lewat radio kesayangannya Mak.

Hampir semua suasana dibuat mirip dengan suasana 1960an. Hanya saja ada yang terlewat, yaitu huruf-huruf yang ada di kamar Willa sudah mengikuti EYD (Ejaan yang Disempurnakan). Lain dari itu, apalagi setting mengambil di daerah Surabaya, yang mana hampir jarang sekali orang mengenakan kebaya. Pada tahun segitu, di kotaku yang kecil ini, sepertinya emak dan mbahkungku masih menggunakan jarik dan pakain tradisional. Kata ibuku, baru sekitar 1965 orang mengenakan pakaian modern. 

review-film-na-willa-nostalgia-dan-seru


Willa, Gadis Kecil yang Kritis dan Imajinatif

Tokoh Willa ini mungkin mewakili kita semua pada jamannya. Anak kecil yang penasaran, apakah di dalam radio ada Lilis Suryani yang sedang menyanyi? Tetapi bedanya, aku waktu kecil tidak sampai membongkar televisi demi melihat Baja Hitam dan Doraemon yang bersembunyi di dalam tabung televisi. Baru mendekat televisi saja sudah dimarahi ibu! 😂


Dunia dalam Mata Willa

Willa melihat dunia dengan polosnya. Bahkan kita juga sebenarnya sedang diajak melihat keadaan di dunia dari kacamata mereka.

Tetapi, mungkin tidak akan ada Willa jika tidak ada peran Mak (diperankan oleh Irma Rihi) dan Pak (diperankan oleh unior Liem) yang mendukung. Di tahun segitu, mungkin sangat jarang anak yang sudah belajar membaca di rumah bersama ibunya. Aku tadinya penasaran, apakah di tahun segitu juga ada homeschooling seperti yang ada dalam cerita-ceritanya di Blog Tulisandin

Jawaban itu akan ada di bagian akhir cerita.

Tak hanya itu, isu yang diangkat di Na Willa juga sangat menarik. Bagaimana film ini memotret hubungan keluarga, keberagaman, dan pertanyaan-pertanyaan polos anak kecil tentang kehidupan.

review-film-na-willa-nostalgia-dan-seru


Pengalaman Menonton Bersama Anak

Awalnya, kami sempat khawatir, apakah anak-anak akan jenuh dan meminta pulang setelah menonton Na Willa barang sebentar. Ternyata, alhamdulillah sampai akhir, keduanya duduk anteng menonton sampai selesai. Ya, meskipun sedikit-sedikit bertanya tetang film tersebut.

Mereka merasa pengalaman Willa dan teman-temannya Farida, Dul, dan Bud itu seru dan menyenangkan layaknya bocil. Mungkin karena dunia mereka masih 11-12 dengan Willa, jadi mereka bisa memahami isi kepalanya Willa.

review-film-na-willa-nostalgia-dan-seru


Dari Willa, kemarin bocil sempat bertanya tentang perbedaan budaya yang ada pada dunianya Willa. Sebab, sedikit banyak kan memang era pada jaman ibuku berbeda dengan era jaman anakku. Tapi dari segi gaya bahasa, film Na Willa masih sangat dipahami oleh Gen Alpha.


Estetika Visual yang Menenangkan

Satu hal yang paling menonjol dari Na Willa adalah visualnya. Berbeda dengan film animasi blockbuster zaman sekarang yang cenderung "ramai", penuh warna neon yang mencolok, atau gerakan yang sangat cepat, Na Willa tampil dengan estetika yang teduh. Pemilihan palet warnanya memberikan kesan retro yang kental namun tetap segar di mata. Gaya animasinya pun terasa lebih personal, seolah-olah kita sedang melihat buku cerita yang hidup. Buat aku, ini sebuah nilai plus karena anak-anak jadi tidak terdistraksi oleh efek visual yang berlebihan dan bisa lebih fokus pada jalinan ceritanya.


Pesan Moral Tanpa Menggurui

Sering kali film anak-anak terjebak pada cara penyampaian pesan yang terlalu "menceramahi". Tapi di sini, kita melihat proses belajar Willa secara alami. Saat Willa bertanya tentang perbedaan atau saat ia berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya, ia belajar tentang empati bukan karena didikte, melainkan karena ia mengalami dan merasakannya sendiri. Menonton ini membuat kita tersadar bahwa anak-anak sebenarnya punya radar kepekaan yang luar biasa jika kita, sebagai orang tua, mau memberi mereka ruang untuk bereksplorasi.


Kesimpulan & Rating

Tontonan Wajib Keluarga

Secara keseluruhan, Na Willa adalah sebuah oase di tengah gempuran tontonan anak yang serba instan. Film ini bukan sekadar hiburan, tapi juga sebuah perjalanan nostalgia bagi orang tua dan sarana edukasi yang manis bagi anak-anak. Ia mengajarkan kita untuk kembali menghargai hal-hal kecil: rasa ingin tahu, kehangatan keluarga, dan kesederhanaan hidup di masa lalu. Bagi para orang tua yang ingin mengenalkan "akar" budaya atau sekadar ingin mengajak anak menonton film yang berkualitas tanpa harus khawatir dengan konten negatif, film ini adalah jawabannya.


Rekomendasi Usia

Melihat ritme ceritanya yang mengalir tenang dan bahasa yang digunakan, aku merekomendasikan film ini untuk anak-anak usia 5 tahun ke atas (usia sekolah). Namun, tidak menutup kemungkinan untuk ditonton bersama balita, asal tetap didampingi orang tua untuk membantu menjelaskan beberapa istilah lama atau latar sejarah yang mungkin mereka tanyakan—persis seperti yang aku lakukan kemarin bersama para bocil.


Rating Pribadi: 4.5/5 ⭐

Sebuah karya yang jujur dan sangat "Indonesia".

Tidak ada komentar