The Third Wife, Tidak Hanya tentang Seksualitas!

Anyeong Yeorobun!!

The Third Wife, sebuah film yang dicekal di asal negaranya sendiri tapi sukses mendapat penghargaan di dunia Barat.


Judul Movie: The Third Wife
Tanggal rilis: September 2018 (Toronto)
Sutradara: Ash Mayfair
Sinematografi: Chananun Chotrungroj



Berkisah tentang gadis remaja berusia 14 tahun yang rela menikah dengan tuan takoor pemilik tanah yang kaya raya. So, dari awal kita tahu bahwa pernikahan ini bukan dipaksa bak Siti Nurbaya ya! Melainkan dengan kerelaan diri, May mau menjadi istri ketiga.

Mengambil setting di sebuah pedesaan di pinggiran Vietnam. May yang diperankan oleh Nguyen Phuong Tra My berangkat naik utuk-utuk perahu kecil mendatangi calon kediaman rumah barunya. Segera, pernikahan dilaksanakan! Awalnya, aku bingung, ini May apa bakal menikah dengan kakek tua? Karena di awal keluarga yang ditampilkan adalah kakek tua lengkap dengan 2 wanita dewasa, 1 pria dewasa dan beberapa anak kecil.

What the hells!

Nyonya May (kita panggil selanjutnya ya), segera menyiapkan diri di kamar pengantinnya. Ada sebuah tradisi unik di sekitar Vietnam, bahwa pengantin pria harus memakan kuning telur yang ada di perut pasangannya. Jadi, demi menambah rating adegan plus-plus, May harus menjatuhkan telur dari lehernya hingga jatuh sendiri di atas pusar. Saat pengantin pria menelan kuning telur itulah, aku tahu bahwa bukan kakek berjanggut putih tadi yang jadi pengantin! 😜😝

Nyonya May mulai belajar menghadapi hiruk pikuk rumah tangga. Dia belajar dari Nyonya Ha (istri pertama) dan Nyonya Xuan (istri kedua) cara memikat suami di atas ranjang dan menikmati kehidupan suami istri. Hmm, yeah! Kayaknya May digambarkan berusaha mempelajari beberapa hal tersebut.

Tabir-tabir kehidupan mulai sedikit terbuka setelah May mengandung bayinya yang pertama. Dia berharap bahwa bayi itu adalah bayi laki-laki sehingga May bisa menjadi nyonya rumah yang sebenarnya.

Tidak hanya di situ, segala affair diungkap dalam film ini. Tapi, kebanyakan sih tentang sensualitas! Welahdalah!

So, in my humble opinion, sebenarnya film yang jarang menampilkan dialog dan lebih sering menampilkan visual ini bagus, dan makanya, aku mencatat beberapa point dari film ini.


  1. Kehidupan para gadis di Vietnam seakan termakan oleh tradisi Patriarki. Perempuan terlahir untuk terbelenggu dalam pernikahan, poligami, dan juga issue bunuh diri. Meskipun mengambil setting di abad akhir ke-19, tetapi Ash Mayfair sang sutradara wanita yang berusia 34 tahun, meyakini bahwa masih banyak perempuan yang tuntuk pada tradisi patriarki.
  2. Poligami, suatu hal yang diinginkan para pria, tetapi dimakruhkan para wanita, banyak mengambil sisi-sisi kehidupan yang tidak kita ketahui. Bagaimana May bersikap seperti saudara dengan kedua istri yang lain, sekaligus menjadi rival untuk memperoleh kehidupan yang tenang.
  3. Poligami nyatanya tidak membuat para istri bahagia sampai-sampai ada salah satu istri yang memiliki affair di belakang suaminya sendiri.
    IMHO, tidak semua wanita yang rela dipoligami seperti ini ya. Hanya saja, saya membayangkan mungkin Nyonya XX merasa kurang puas dengan suaminya, entah kurang waktunya atau kurang kasih sayang sehingga dia ada affair!
  4. Ada adegan di mana seorang anak perempuan membayangkan dirinya lahir kembali dan ingin menjadi seorang anak laki-laki sehingga bisa memiliki banyak istri. Hmm, coba bayangno! Betapa mereka sadar bahwa mereka adalah perempuan dan sadar tentang poligami.
  5. Kesebelas perempuan dalam film The Third Wife memiliki kisahnya masing-masing. Semuanya terbelenggu pada tidak adanya pilihan untuk mereka. Mereka harus menikah dan menyenangkan suaminya, bagaimanapun caranya! Out of that, mati aja!
  6. IMHO (again), artis remaja ini terlalu berani mengambil peran untuk melakukan beberapa adegan seks dengan lawan mainnya. Hmm, saat bermain film ini, sang aktriss baru berusia 12 tahun! Tapi balik lagi ke Ash Mayfair tidak peduli dengan kecaman dan kritikan masyarakat Vietnam. Nyatanya, film ini memang sukses meraih penghargaan (di luar Vietnam).


Ahsmbuh Mbak Ash!

Jane tuh, Mbak Ash ngambil orang dewasa yang wajahnya masih imut, jadi nggak mengorbankan ABG. Ini di Indonesia, ABG itu masih di bawah perlindungan hukum, lho Mbak!

Aku hanya mengambil kesimpulan, bagi May menikah dalam usia muda ternyata tidak seindah yang dibayangkan! Apalagi dengan hadirnya bayi yang selalu menangis tak tentu. Dan film ini ditutup dengan Nyonya May yang sepertinya mengalami PPD (Postpartum Distress Syndrom) atau Baby Blues.

Traumatic and Dramatic!


26 komentar

  1. Mengupas habis pola patriarkhi di negara, pantesan banyak yg meradang dan akhirnya dicekal ya Mba
    Film yg sangat berani!
    --bukanbocahbiasa(dot)com--

    BalasHapus
  2. Dicekal barangkali karena peran tokoh perempuan yang masih anak-anak atau remaja ya Mbak. Nggak biasa buat orang Barat apalagi buat orang Timur. Kalau ada adegan-adegan yang berani banget nggak kebayang gedenya anak ini gimana.

    BalasHapus
  3. hmmm...kalo nonton bakal merinding-merinding miris gitu gak ya.... Apalagi topik begini sbrnnya kan banyak di dunia nyata...

    BalasHapus
  4. Saya baca di sini aja udah gregetan, gemes, gimana gitu. Apalagi membayangkan di dunia nyata memang bisa jadi ada yang begini. Berani juga ya itu masih usia 12 tahun. Gak heran deh kalau menuai kritikan. Meskioun di belahan dunia lain juga mendapatkan pujian

    BalasHapus
  5. Waduh...saknoe Mbak May. Jujurly. Aku sebenarnya bukan pecinta film. Tapi aku malah seneng lek moco reviewnya. Apalagi ini dirimu menulis ada unsur kocaknya. Halahhh...opo iku kathik ada thuk-uthuk dicoret. Wkakak. Salam- (WidyantiYuliandari)

    BalasHapus
  6. ihiy, penuh sensualiatasnya ini film, tapi ada sesuatu emang yg mau diangkat sutradaranya. Kalau di Indonesia mungkin segan orang mau ngajak anak kecil bermain di film yang dan melakukan 'adegan' dewasanya, karena tahu bakal "dihujat" kanan kiri, hihihih

    BalasHapus
  7. Laaaahhh beneran anak kecil pemain filmnya? Pantesan dikecam :(
    Setuju, harusnya bisa pakai orang dewasa yang mukanya imut, kayak artis Korea gitu kan. Ada yg kecil mungil kayak anak SD 😆

    Aku penasaran pengen nonton biar paham jalan ceritanya, tp aku gak suka yg sensual2. Doh peer banget 😂

    BalasHapus
  8. Sutradaranya termasuk berani ya, tema yang tak biasa dan artis pemerannya masih beneran 12 tahun. Tapi setiap film akan menemukan penontonnya ya, walau dicekal di negara sendiri, tapi dihargai di negara lain

    BalasHapus
  9. Bacanya sampai nahan nafas saya mbak. Mbak Mau datang menikah tujuannya belum disebutkan ya mbak? Cuma disebut dua datang untuk menikah sebagai istri ketiga. Kali aja si cowok kaya, dia ingin kekayaannya atau sebab lain.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya memang nggak disebut tuh Mbak. Sependek pengetahuanku mungkin karena May ingin jadi nyonya tuan tanah meskipun itu nomor 3

      Hapus
  10. Mba Rany, ini bisa nonton dmana? Kisah ungkap sisi lain poligami ini yang tak semua bisa ungkap di film ya

    BalasHapus
  11. Wahhh gemes ya bacanya, trus jadi membayangkan kalo itu kejadian nyata yang mungkin terjadi. Gimana perasaan May gitu sampai ngalami PPD. Bahkan ada juga anak perempuan yang membayangkan lahir kembali sebagai anak laki2. sedihhhh

    BalasHapus
  12. Baca review dan terakhir lihat trailernya, rasanya kok penasaran nih dengan film ini mba.
    Ternyata di muka bumi ini, masih banyak ya negara dan daerah yang dikuasai sistem patriarki gini. Banyak lelaki yang cenderung memiliki banyak istri dengan tujuan tertentu.

    BalasHapus
  13. Baru kali ini aq baca review film langsung nonton trailernya! Kk sukses nih buat saya penasaran, sprtix film ini gk hxa ntuk dini ton tp di bedah

    BalasHapus
  14. Duh aku baca ini jd inget film Revolutionary road leo. Sempat re framing jg nih krn aku pun nikah muda n sempat kena baby blues ditengah sistem patriarki. Sekarang sedang berjuang melawan sistemnya.

    BalasHapus
  15. Ya ampun itu wajahnya masih bocah emang
    Kasian jadinya kok dapat peram begituan. Mba Ash, ngaco mih.

    BalasHapus
  16. Jarang bnget nih mba aku nonton drana kyk gini jadi penasaran mau nonton juga to tetep y d sebuah flim bnyk yg bisa d ambil buat pelajaran

    BalasHapus
  17. Wihh sutradaranya berani membuat film tentang ini biasanya kan sering di cekal dan pemainnya umurnya 12 tahun

    BalasHapus
  18. Waduuh....seriously, i can't take this film further.
    Tapi setelah lihat teasernya, kayanya memang maknanya dalem yaa..
    Dan sebenarnya kaidah poligami ini harus dibarengi dengan agama. Bukan hanya esensi per"kawin"an yang hanya melihat dari satu sisi.
    Nafsu.

    Karena manusia gak akan ada puasnya bila dituruti..

    BalasHapus
  19. Wah penasaran, aku suka film-film lokal khas negara Asia mbak. Beberapa menurutku bagus. Dirimu udah pernah nonton film Wajda buatan sutradara asal Arab Saudi belum mbak. Mirip2 ini

    BalasHapus
  20. Aku suka banget nih klo nonton film genre ini, apalagi pengambilan gambarnya bagus banget. Sayang ya sampai dicekal di negaranya sendiri

    BalasHapus
  21. usianya ama nih sama kakak, anak pertama saya, tapi kalo soal merit, duh kayaknya maasih jauh, nunggu ya tamat SMA aja deh, btw ilm kayak ini pasti banyak sejarahnya dan penting ditonton

    BalasHapus
  22. Di sana enggak ada KPAI kali
    Maka anak-anak main film begini dibiarkan
    Di luar moral of story nya bagus, aku gak suka anak-anak yang memerankan

    BalasHapus
  23. Banyak senyum dikulum dan ngakak aku baca artikelmu ini lho, mba
    Syukak!
    Kayaknya, bakalan sering melipir ke sini ne!


    BalasHapus
  24. ternyata isu poligami gak cuma ada di Indonesia ya, bahkan di negara lain usianya bisa lebih muda. Jadi penasaran buat ngeklik trailernya

    BalasHapus
  25. Aku pernah dengar sih film ini, yang dicekal di negara sendiri tapi sukses meraih penghargaan di luar negeri. Ternyata cerita tentang poligami dan seluk beluknya di Vietnam.

    BalasHapus